Entri Popular

Jumat, 02 Mei 2014

TEKNOLOGI BETON PRATEKAN



Anchor Set

 

BAHAN AJAR


MATA KULIAH
TEKNOLOGI BETON PRATEKAN

Oleh :

Ir. H. Armeyn Syam, MT


Anchor Set







 

 

PROGRAM STUDI – S1 TEKNIK SIPIL

JURUSAN TEKNIK SIPIL

INSTITUT TEKNOLOGI PADANG
                                                      Mei 2013                                                     



Teknologi Beton Pratekan
2.1. Pendahuluan
Perancang struktur beton pratekan/prategang harus memiliki pengetahuan tentangteknik dan teknologi yang berhubungan dengan penegangan dan harus terbiasa denganistilah-istilah yang digunakan. Bab ini menguraikan teknik-teknik penegangan secarakomprehensip dan juga memberikan detail-detail dari beberapa sistem penegangan yang luasdikenal.Materi tentang pelaksanaan prategang dibagi dalam dua klasifikasi: Pretensioning(Penegangan/Penarikan-Awal) dan Post-tensioning (Penegangan/Penarikan Purna). DalamPretensioning, tendon ditegangkan sebelum pengecoran beton, sementara dalam post-tensioning, tendon ditegangkan sesudah beton dicetak. Skema klasifikasi sistem-sistemprategangan diberikan dalam skema di bawah (Gbr. 2.1.) semua sistem pretensioning merupakan bonded (terekat)

1-c51487aaf9






System prategangan
 


Semua sistem pretensioning merupakan bonded (terekad)
 



















Gambar 2.4.Klasifikasi dalam Sistem Prategangan (lihat terminologi, hal. 9-14)

2.2. Tendon Pratekan
Istilah “tendon” digunakan untuk menguraikan sebuah kabel tunggal, untaian,kelompok kabel atau batang (lihat Gbr. 2.2.). Tipe perkuatan pratekan yang paling seringdigunakan adalah untaian-tujuh-kabel atau strand 7-kabel (seven-wire strand). Karena strand7-kabel dibuat di USA maka standar diameter nominal di seluruh dunia menggunakan satuaninci, dengan
38inci (9.53 mm),12inci (12.70 mm), dan 0.6 inci (15.24 mm) merupakandiamater-diamater yang paling sering digunakan. Untaian-untaian kabel ini digunakan baikuntuk konstruksi pretension maupun post-tension. Kekuatan tarik ultimit dari untaian-untaiankabel ini bervariasi mulai dari 250 sampai 270 ksi (1720 – 1860 Mpa).






Teknologi Beton Pratekan.                                                     Armeynsyam@gmail.com

2-adc776dfaa












Gambar 2.2.Bentuk tendon tipikal

Batang prategang terdeformasi adalah suatu tipe khusus perkuatan yang berguna dalam beberapa tipe konstruksi post-tension. Diameter nominal bervariasi dari 38inci (15 mm)sampai 138inci (36 mm) dan tegangan tarik ultimit sekitar 150 ksi (1030 Mpa).
Kawat tunggal adalah bentuk pertama perkuatan prategang yang berhasil dan yang tetap digunakan hingga sekarang untuk penerapan khusus seperti penghubung rel kereta.Diameter nominal 0.196 inci (5 mm) atau 0.276 inci (7 mm) dan tegangan tarik ultimit berkisar 235 sampai 250 ksi (1620 - 1720 Mpa).

2.3. Sistem Pratekan Pretensioning (Sistem Penegangan-Awal)

Sub-bab ini meliputi topik sbb,
·       Tahap-tahap Pretensioning (Penegangan/Penarikan-Awal)
·       Keuntungan dan Kerugian Sistem Pretensioning
·       Perangkat Sistem Pretensioning
·       Fabrikasi Bantalan Rel Sistem Pretensioning

2.3.1. Tahap-tahap Pretensioning (Penegangan-Awal)
               Dalam sistem pretensioning, tendon baja kekuatan tinggi ditarik diantara dua ujung abutmen (juga disebut bulkhead ) sebelum pengecoran beton. Abutmen-abutmen dikekang pada ujung-ujung landasan prategang.Pada saat beton mencapai kekuatan yang diinginkan untuk penegangan, tendon-tendon diputus dari abutmen-abutmennya. Gaya pratekan ditransfer ke beton dari tendon,berdasarkan ikatan/rekatan diantara beton dan tendon. Selama transfer prategang, elemen mengalami perpendekkan elastik. Apabila tendon diaplikasikan secara eksentris, elemen sangat mungkin mengalami lenturan dan defleksi.
      Tahap-tahap yang berbeda dari pelaksanaan pretensioning diringkaskan sbb.:

1.      Pengangkuran tendon pada ujung-ujung abutmen
2.    Penempatan jack-ack (dongkrak)
3.    Aplikasi tarikan pada tendon
4.    Pencetakan beton
             5.  Memutus tendon

Selama pemutusan tendon-tendon, prategang ditransfer pada beton melalui perpendekkan elastik dan pelengkungan elemen. Tahap-tahap tersebut ditunjukkan secara skematik dalamGbr. 2.3. Panjang penegangan dan alas acuan bervariasi dari sekitar 80 feet (25 m) sampai650 feet (200 m), bergantung pada produk yang diperlukan. Untaian kabel yang ditegangkansecara individu biasanya dilepaskan dengan api-pemotong atau sawing. Urutan pemotonganharus sedemikian rupa agar tegangan-tegangan tetap sesimetris mungkin. Pemotongan harusdilakukan secara bertahap dan sedekat mungkin dengan elemen untuk meminimalkan jumlah energi yang ditransfer secara dinamik melalui tegangan ikat pada pelepasan.
3-fd02aa8c71











                                                                                                                                 


Gambar 2.3.Tahap-tahap Pretensioning (Penegangan/penarikan-awal)

2.3.2. Keuntungan dan Kerugian Sistem Pretensioning

Keuntungan relatif sistem pretensioning dibandingkan dengan sistem post-tensioningadalah,
Ø  Sistem pretensioning cocok untuk elemen pracetak yang diproduksi dalam umlah besar.

Kerugian relatif sistem pretensioning adalah,
Ø  Suatu alas penegangan diperlukan untuk pelaksanaan pretensioning;
Ø  Terdapat suatu masa tunggu di alas penegangan, sebelum beton mencapai cukup kekuatan;
Ø  Harus ada ikatan/rekatan yang baik diantara beton dan baja sepanjang  panjang transmisi

http://htmlimg2.scribdassets.com/6c6u1m4vnk1y6d4e/images/4-0a6fc5f347.png

                                                                                                                                        

                                                                                                                                   
                                                                                                                                   

























Gambar 2.4. Alas pracetak yang sedang disiapkan untuk mengecorsebuah gelagar AASHTO yang sangat panjang. Sisisamping acuan (mold) terlihat di latarbelakang ke arahkanan. Untaian kabel prategang ditahan pada pusatbalok oleh katrol-katrol baja yang akan tertinggaldalam beton sesudah pengecoran. Alas berukurancukup panjang sehingga beberapa gelagar dapat dicetak dari ujung ke ujung, dengan untaian kabel ditarik keatas dan ke bawah sesuai keperluan. Baja tulanganlunak digunakan sebagai tulangan geser (sengkang).Sisi-sisi atas sengkang akan merekat pada lapisanpenutup yang dicetak di tempat. Puntiran vertikal kabelprategang dekat ujung gelagar akan berfungsi sebagai putaran pengangkat.

2.3.3. Perangkat Sistem Pretensioning

Beberapa perangkat penting dalam sistem pretensioning adalah sbb.:
·      Alas / landasan prategangan
·      Abutmen ujung
·      Acuan / mold
·      Jack (dongkrak)
·      Perangkat pengangkuran
·      Perangkat pelentuk kabel
    Alas prategangan, abutmen ujung dan acuan  Alas/landasan prategangan, abutmen ujung dan acuan (mold) diberikan dalam Gbr. 2.5.
5-ae637914a4






Gambar 2.5. Alas prategangan, abutmen ujung dan cetakan (mold)

Suatu perluasan dari sistem sebelumnya disebut sistem Hoyer. Sistem ini umumnyadigunakan untuk produksi massal. Abutmen-abutmen ujung diletakkan pada jarak terpisahyang cukup, dan beberapa elemen dicetak pada suatu jalur tunggal. Cetakan disediakan padasisi-sisi dan diantara elemen-elemen. Sistem ini disebut juga metoda jalur panjang (long line method). Gambar di bawah ini adalah contoh skematik sistem Hoyer.

5-ae637914a4






(a) Skematik
5-ae637914a4






(b) Gambar Detail

Gambar 2.6.a - b. Skematik dan detail sistem Hoyer (long line method)

Abutmen ujung haruslah cukup kaku dan mempunyai fondasi yang kuat. Hal ini biasanya membutuhkan suaturancangan yang mahal, khususnya bila dibutuhkan gaya prategang yang besar. Kebutuhan fondasi yang kuat dankaku dapat dilewati mengganti sistem. Adalah mungkin untuk mencegah pemindahan beban-beban berat kefondasi dengan menggunakan sistem keseimbangan sendiri sebagaimana dalam uji pembebanan. Biasanya, halini dilakukan dengan bantuan suatu alat rangka tarik. Gambar berikut ini menunjukkan komponen dasar dari suaturangka tarik. Dongkrak dan spesimen cenderung mendorong ujung elemen. Tetapi ujung-ujung elemen ditahanpada posisinya oleh elemen yang mengalami tarikan yaitu batang-batang baja berkekuatan tinggi.

5-ae637914a4








Gambar 2.7. Suatu rangka tarik





Rangka yang secara umum diadopsi dalam sistem pretensioning disebut bangku tegangan (stress bench). Cetakan beton ditempatkan di dalam di antara rangka dan tendon-tendondiregangkan dan diangkur pada tangan-tangan rangka. Gambar berikut menunjukkankomponen-komponen bangku tegangan
6-70e5faebb0




6-70e5faebb0


                                                                                                                                          


Gambar 2.8 Bangku tegangan rangka peregang sendiri
Gambar berikut menunjukkan diagram benda-bebas dengan mengganti dongkrak dengan gaya-gaya terapan.
6-70e5faebb0






Gambar 2.9.Diagram beban-bebas bangku tegangan
Gambar berikut menunjukkan bangku tegangan sesudah pencetakan beton
6-70e5faebb0








Gambar 2.10. Bangku tegangan sesudah pencetakan beton

     Jack (Dongkrak)

Jack atau dongkrak digunakan untuk aplikasi tarikan pada tendon-tendon. Jack hidrolik adalah tipe yang umumdigunakan. Dongkrak tipe ini bekerja atas tekanan minyak yang dibangkitkan oleh pompa. Prinsip-prinsip yangmendasari bajak adalah Hukum Pascal. Beban yang diberikan oleh dongkrak diukur melalui pembacaan tekanan dari suatu meteran yang ditambahkan pada aliran minyak atau melalui sel beban terpisah. Gambar berikutmenunjukkan suatu jack hidrolik aksi ganda dengan sebuah sel beban














Gambar 2.11. Sebuah Jack (dongkrak) hidrolik aksiganda dengan sel beban

Perangkat Pengangkuran  /  Penjangkaran

Perangkat pengangkuran/penjangkaran sering dibuat berdasarkan prinsip baji (pasak) dan friksi. Dalam elemen pretension, tendon ditahan selama pengecoran dan proses pengerasan beton.Dalam hal ini digunakan suatu alat pencengkeram sederhana, yang murah dan dapat dilepasdengan cepat. Pada gambar di bawah ini diberikan beberapa contoh perangkat pengangkuran.

7-084040004d7-084040004d

                                                                                                                           







Gambar 2.12 Pemasangan chuck untuk pengangkuran Strand Pretention
                                                  





Perangkat Pelentuk ( Harping Devices )

Tendon seringkali dibengkokkan, kecuali dalam kasus slab diatas tanah, tiang, tiang pancang, dll.Tendon dibengkokkan (dilentukkan) diantara dukungan-dukungan dengan sebuah lenturandangkal yang ditunjukkan di bawah.
8-0fd40990a5








Gambar 2.13.Pelentukkan/pembengkokkkan tendon


Tendon-tendon dibengkokkan menggunakan perangkat penahan bawah khusus yangditunjukkan dalam gambar di bawah,
8-0fd40990a5


















Gambar 2.14 Angkur penahan bawah untuk membengkokkan tendon




2.3.4. Fabrikasi Bantalan Rel Sistem Pretensioning

Gambar-gambar foto berikut ini menunjukkan urutan fabrikasi bantalan rel keretadengan dasar-dasar teknologi pratekan sistem pretensioning (COPCO, Chennai, India)

Untaian kabel baja (strands) diregangkan dalam bangku tegangan yang dapat digeser dengan roller. Bangku tegangan ini dapat memuat 4model dalam satu jalur. Perangkat pengangkuran menahan strands pada satu ujung bangkutegangan. Pada ujung satunya lagi, dua dongkrak hidrolik mendorong sebuah pelat dimana strands diangkur. Gerakan pelantak dongkrak dan tekanan minyak masing-masing dimonitor dengan skala dan meteran. Perhatikan bahwa setelah keluarnya pelantak, celah diantara pelat ujung dan acuan disampingnya bertambah besar. Hal ini menunjukkan meregangnya strands.

Gambar 2.15. Memindahkan bangku tegangan pretensioning
 
Gambar 2.16. Pengangkuran strands.Bajak dan silinder dipasang pada ujung tetap

 
9-57a31e904f

Gambar 2.17.Penarikan kabel (strands). Dongkrak hidrolik berada padaujung penarikan.











Gambar 2.18.
Penarikan kabel (strands) perpanjangan alat pelantak Dongkrak Hidrolik

 



Gambar 2.19. Penyimpanan material agregat halus dan agregat kasar

 


Gambar 2.20.
 Penakaran dan pencampuran material dengan perbandingan berat
 
10-1fda1987ec




Gambar 2.23.
Beton setelah proses vibrasi ( Vibrasi = digetarkan sehingga membentuk masa yang padat

 
Gambar 2.22.
Kamar perawatan uap

 
Gambar 2.21.
Penuangan beton segar kedalam acuan

 
11-a5cd37bd9e
12-91115ed7b1







Gambar 2.24
Pemotongan kabel (Strands)
 



Gambar 2.25
Pembukaan acuan bantalan rel
 



Gambar 2.26
Penumpukan bantalan rel
 












12-91115ed7b1





12-91115ed7b1
Gambar 2.28  Penyimpanan dan pengiriman bantalan rel siap pakai
 
Gambar 2.27 
Proses Perawatan Beton pada  bantalan rel menggunakan air
 
13-1523e7e8fe


2.4. Sistem Pratekan Post-tensioning (Sistem Penegangan-Purna)

Sub-bab ini meliputi topik sbb,
ü  Tahap-tahap Post-tensioning (Penegangan/Penarikan-Purna)
ü  Keuntungan dan Kerugian Sistem Post-tensioning
ü  Perangkat Sistem Post-tensioning
ü  Fabrikasi Gelagar Jembatan Sistem Post-tensioning


2.4.1. Tahap-tahap Post-Tensioning (Penegangan-Purna)

Dalam sistem post-tensioning, pipa atau saluran untuk tendon (strands) ditempatkan bersama-sama dengan penulangan sebelum pencetakan beton. Tendon dimasukkan kedalam saluran (pipa) sesudah pencetakan beton. Pipa mencegah kontak diantara beton dan tendon selama pelaksanaan penarikan. Tidak seperti sistem pretensioning, tendon-tendon ditarik dengan reaksi yang bekerja terhadap beton yang mengeras.
Bila saluran/pipa dipenuhi dengan injeksi semen (grout), maka ini disebut post-tensioning terekat (bonded). Injeksi merupakan pasta semen murni atau suatu mortar semen-pasir yang mengandung bahan tambahan yang sesuai. Pelaksanaan injeksi semen diberikandalam Bab 3.Dalam sistem post-tensioning tak-terekat (unbonded), pipa/saluran tidak pernahdiinjeksi dan tendon ditahan semata-mata oleh pengangkuran ujung. Sketsa berikutmenunjukkan gambaran skematik dari suatu elemen post-tensioning yang diinjeksi. Profilsaluran bergantung pada kondisi tumpuan. Untuk elemen perletakkan sederhana, saluranmempunyai suatu profil penurunan diantara ujung-ujung. Untuk elemen perletakkan menerus,saluran menurun pada bagian bentangan dan naik di atas tumpuan
14-008ac2386a







Gambar 2.29.Sistem post-tensioning, angkur penarikan, angkur ujung tetap dan tabung/pipa.

Gambar 2.30 menunjukkan  penempatan tabung/pipa/saluran dalam sebuah gelagar kotak (box girder) jembatan ditumpu sederhana. Gambar 2.31 menunjukkan bagian ujung gelagar kotak sesudah penarikan beberapa tendon.

14-008ac2386a














Gambar 2.30 Saluran pipa Tendon Post-Tensioning didalam bentuk suatu gelagar I dan box



15-62a33ff153













Gambar 2.31.Bagian ujung suatu gelagar kotak sesudah penarikan tendon

 Adapun tahap-tahap pelaksanaan penarikan-purna (post-tensioning) dapat diberikan sbb.:
  1. Pengecoran beton
  2. Penempatan tendon
  3. Penempatan blok angkur dan dongkrak
  4. Aplikasi tarikan pada tendon-tendon
  5. Pengaturan pasak/baji
  6. Pemotongan tendon

Tahap-tahap tersebut ditunjukkan secara skematik pada Gambar 2.32. Sesudah mengangkurkan sebuah tendon pada satu ujung, tarikan diberikan pada ujung lainnya menggunakan dongkrak.Penegangan tendon-tendon dan gaya pra-tegang beton timbul secara simultan. Sebuah sistemkeseimbangan-sendiri dari gaya-gaya berkembang sesudah peregangan tendon.
15-62a33ff153











Gambar 2.32. Tahap-tahap post-tensioning


2.4.2. Keuntungan dan Kerugian Sistem Post-tensioning

Keuntungan relatif sistem post-tensioning dibandingkan dengan sistem pretensioningadalah,
·  Sistem post-tensioning cocok untuk elemen yang dicetak di lokasi  pekerjaan dengan bobot besar;
·  Waktu tunggu dalam alas pencetakan kurang;
·  Transfer prategang tidak bergantung pada panjang transmisi.

Kerugian relatif sistem post-tensioning adalah,

  • memerlukan perangkat pengangkuran dan peralatan untuk injeksi semen (grouting) 

2.4.3. Perangkat Sistem Post-tensioning

Beberapa perangkat utama dalam sistem post-tensioning adalah sbb.:
  • Alas/landasan pencetakan
  • Mold/acuan
  • Saluran/pipa tendon
  • Perangkat pengangkuran
  • Dongkrak
  • Coupler 
  • Peralatan grouting (injeksi/penyuntikkan semen)
Alas pencetakan, mold/acuan dan pipa/saluran tendon Alas/landasan prategangan, abutmen ujung dan acuan (mold) diberikan dalam Gbr. 2.33.

16-f88a5822f9




Gambar 2.33. Alas pencetakan, mold/acuan dan pipa/saluran tendon

Perangkat Pengangkuran

Dalam elemen post-tension, perangkat angkur memindahkan gaya prategang pada beton.Perangkat pengangkuran didasarkan atas prinsip-prinsip pengakuran tendon berikut:

ü Aksi pasak/baji
ü Dukungan langsung
ü Belitan kabel

Aksi Pasak/Baji

Perangkat pengangkuran berbasis aksi pasak/baji terdiri dari blok angkur dan baji-baji/pasak. Untaian kabel ditahan oleh pegangan friksi pada baji dalam blok angkur. Beberapa contoh dari sistem berbasis aksi pasak adalah produk pengangkuran Fressynet, Gifford-Udall, Anderson dan Magnel-Blaton.


Perangkat sistem pengangkuran baji/pasak produksi Fressynet
 
Konus angkur sistem “T”  Fressynet
 
Perangkat pengangkuran
 
Perangkat pengangkuran VSL
 
Skema aksi pasak/baji
 
17-dcb7c090a2

             Gambar 2.34. Perangkat Pengangkuran Sistem Pasak/Baji





Dukungan Langsung

Kepala baut atau kepala kancing dibentuk pada ujung kabel-kabel yang secara langsung menumpu berlawanan arah terhadap blok angkur. Sistem post-tensioning BBRV(Birkenmaier-Brandestini-Ros) dan sistem Prescon bekerja atas prinsip ini.
18-764e65e2d9













Gambar 2.35.Perangkat pengangkuran sistem dukungan langsung

Belitan Kabel

Sistem Baur-Leonhard , SistemLeoba dan SistemAngkur-Tunggal Dywidag , bekerja atas dasar prinsip ini dimana kabel ditanam atau dibelitkan di dalam beton sebagai angkur mati pada ujung tetap elemen. Kabel-kabel digulung/dibelitkan berbentuk bola lampu. Gambar berikut memperlihatkan pengangkuran dengan menggulung kabel dalam suatu pelat post-tension.


18-764e65e2d9















Gambar 2.36. Perangkat pengangkuran sistem gulungan kabel (bentuk bola lampu) pada ujung tetap yang merupakan suatu angkur mati.



Gambar 2.37 Sistem angkur gulungan kabel yang ditanam  
                     pada pelat post-tension 
 
19-e9004481d8









Perangkat pengangkuran diuji untuk menghitung kekuatannya gambar berikut menunjukkan pengujian blok angkur.


Gambar 2.38  Pengujian Kekuatan  
                       Perangkat Pengangkuran
 
19-e9004481d8











Tahap-tahap pengangkuran
Gambar dibawah ini menunjukkan urut-urutan penegangan dan pengangkuran19-e9004481d8 kabel-kabel








 Memasang blok angker dan pasak-pasak
 



 Memposisikan dongkrak
 
 
20-b2e480f17a
Injeksi semen
 
Kedudukan pasak/ baji
 
Penegangan / penarikkan kabel
 
Gambar  2.39 Urutan urutan Pengangkuran

Perangkat Pengangkuran / Penjangkaran

Perangkat pengangkuran/penjangkaran sering dibuat berdasarkan prinsip baji (pasak) dan friksi.Dalam elemen pretension, tendon ditahan selama pengecoran dan proses pengerasan beton.Dalam hal ini digunakan suatu alat pencengkeram sederhana, yang murah dan dapat dilepasdengan cepat. Pada gambar di bawah ini diberikan beberapa contoh perangkat pengangkuran

Perangkat pengangkuran berbasis aksi pasak/baji terdiri dari blok angkur dan baji-baji/pasak. Untaian kabel ditahan oleh pegangan friksi pada baji dalam blok angkur.Beberapa contoh dari sistem berbasis aksi pasak adalah produk pengangkuran Fressynet,Gifford-Udall, Anderson dan Magnel-Blaton. Gambar 2.34.Perangkat Pengangkuran Sistem Pasak/Baji

Dongkrak

Cara bekerja dongkrak dan pengukuran beban telah diberikan pada hal. 20-21. Gambar berikut menunjukkan sketsa yang diperluas dari perangkat pengangkuran.

20-b2e480f17a

Gambar 2.40 Pengangkuran dan pendongkrakan dengan baji-baji

Coupler (Penyambung) 

Coupler digunakan untuk menghubungkan untaian kabel (strand) atau batang (bar). Alat initerdapat pada pertemuan elemen-elemen, misalnya di dekat kolom-kolom pada pelat post-tension dan di atas pier pada lantai (dek) jembatan post-tension. Perangkat coupler harus diujidengan kapasitas penuh dari untaian kabel atau batang. Beberapa tipe coupler ditunjukkandalam gambar di bawah.

Coupler tipe H untuk tendon tunggal dari Cona CMM
 
Coupler untuk tendon cincin (melingkar) dari Dywldag Sistem Int
 
Coupler Multistrand dari Dywldag Sistem Int
 
21-6bd07f7e2c

Gambar 2.41 Berbagai tipe alat sambung Untaian kabel (Coupler) multistrand





















































http://htmlimg4.scribdassets.com/6c6u1m4vnk1y6d4e/images/7-084040004d.jpg












































22-8a1dd1b495


























Gambar 2.42.Coupler monostrand, dengan saluran grouting (atas)dan tanpa saluran grouting (bawah dan kanan).
Kekuatan pengangkuran dan alat sambung (coupler) dites untuk menentukan kapasitasnya dengan mesin berikut.


Gambar 2.43.Mesin penguji kekuatan angkur strand/kabel dan kapasitas coupler








 
Injeksi Semen (Grouting)

Grouting (injeksi) didefinisikan sebagai pengisian saluran/pipa, dengan suatu bahan yang bersifat anti karat lingkungan basa (alkali) untuk baja prategang dan juga menyediakanrekatan yang kuat diantara tendon dan bahan grouting sekelilingnya.Bagian utama injeksi terdiri dari air dan semen, dengan rasio air semen sekitar 0.50, bersama-sama dengan bahan tambah pereduksi air, bahan ekspansif dan bahan pozzolan.Spesifikasi utama bahan injeksi dapat diberikan sebagai:

  1. Butiran pasir harus lolos diameter ayakan 150 - 200 µm;
  2. Kuat tekan tes kubus 100 mm bahan grouting tidak boleh kurang dari 17 N/mm2
pada usia 7 hari.

Di bawah ini diberikan gambar peralatan grouting (injeksi) dengan kandungan bahan (mortar) dicampur dan pengisian bahan injeksi melalui pemompaan.
Gambar 2.44.Berbagai tipe pompa groutin

Gambar 2.44 Pompa Grouting produksi Willams From Eng
 
Gambar 2.44 Tangki mortal (agitator) Model 3-700 produksi Fressynet
 
Gambar 2.44 Pompa Grouting Model 3-600 Produksi Fressynet
 
23-24120c341a

Gambar 2.44 Berbagai tipe pompa grouting


2.4.4. Fabrikasi Gelagar Jembatan Post-tension

Gambar-gambar foto berikut ini menunjukkan beberapa tahap penting dalam fabrikasi girder-I (gelagar) post-tension untuk jembatan (Larsen & Toubro). Gambar 2.45 menunjukkan perakitan/pemasangan baja tulangan dengan pipa/saluran tendon berada di dalam.Perhatikan bahwa bentuk profil parabola pipa/saluran adalah untuk gelagar tumpuansederhana. Sesudah beton dicetak dan dirawat untuk mencapai kekuatan yang cukup,tendon-tendon dimasukkan ke dalam pipa/saluran (Gbr. 2.46). Tendon-tendon kemudiandiangkur pada ujung tetap dan ditarik menggunakan dongkrak pada ujung lainnya (Gbr. 2.47).

24-bfc8483b65
Gambar 2.45 Perakitan/Pemasangan pendetailan tulangan non pratekan dan Tendon

24-bfc8483b65
Gambar 2.46 Memasukkan tendon (kabel) kedalam pipa / saluran

25-e96fb30d5d









Gambar 2.47 Sangkar tulangan gelagar kotak
 


Gambar 2.48
Penarikan dan Pengangkuran tendon-tendon
 
 



































Gambar 2.47. Penarikan dan Pengangkuran  Tendon-Tendon








Gambar 2.49 Kerangka acuan (form work) gelagar kotak
 


Gambar 2.51 Pemindahan (Transport) gelagar kotak
 
26-5568ef0967








































Gambar 2.52. Jembatan pratekan post-tension dalam pelaksanaan

 


















Motto :
  1. Jadikanlah setiap desah nafas dan langkahku dalam kehidupan sebagai Ibadah yang terindah kepada Allah, ingin selalu kuniatkan segala karena ALLAH.
  2.  Kumohon Ampunan Dosaku dan Dosa Kedua Orang Tuaku , kuingin dalam setiap kehidupanku, keberadaanku tidak menjadi beban bagi siapapun. Cukup beban itu kusandarkan pada Allah
  3. Dan kuingin, Allah ciptakan keberadaanku dimuka bumi ini sebagai berkah, manfaat dan sebagai pembawa kebaikan
  4. Ya Robbi, kabulkan permintaanku ini.



Ir. H. Armeyn Syam, MT