TEKNOLOGI BETON
1.1
Pengetian Beton
Pengetian Beton
Beton
merupakan hasil pengerasan dari pada Campuran Aggregat Kasar, Aggregat Halus, Semen, dan
Air secukupnya dengan atau tidak memakai bahan tambahan ( Additive ) dalam
perbandingan tertentu. Beton yang masih basah ( Plasits ) dapat dibentuk dengan
cara menempatkan campuran yang masih basah ke dalam cetakan beton sampai
terjadi pengerasan.
merupakan hasil pengerasan dari pada Campuran Aggregat Kasar, Aggregat Halus, Semen, dan
Air secukupnya dengan atau tidak memakai bahan tambahan ( Additive ) dalam
perbandingan tertentu. Beton yang masih basah ( Plasits ) dapat dibentuk dengan
cara menempatkan campuran yang masih basah ke dalam cetakan beton sampai
terjadi pengerasan.
Ditinjau dari bahan
pembentuk beton, maka beton merupakan bahan tidak homogen, berbeda dengan kayu
dan baja. Ketidak Homogen ini, menyebabkan beton mempunyai perbedaan pada
kekuatan tekan, tarik, dan geser yang besar.
pembentuk beton, maka beton merupakan bahan tidak homogen, berbeda dengan kayu
dan baja. Ketidak Homogen ini, menyebabkan beton mempunyai perbedaan pada
kekuatan tekan, tarik, dan geser yang besar.
1.2
Sejarah Perkembangan Beton
Sejarah Perkembangan Beton
Penggunaan
Beton dengan bahan Vulkanik seperti “ Abu Puzolik “, sebagai
pembentuknya, telah diamati sejak zaman Yunani, Romawi kuno, atau mungkin juga
zaman sebelum itu. Awal abad ke-19 merupakan awal penggunaan beton yang diberi
Baja Tulangan. Mulai saat itu dikembangkan penelitian-penelitian secara
intensif mengenai Beton.
Beton dengan bahan Vulkanik seperti “ Abu Puzolik “, sebagai
pembentuknya, telah diamati sejak zaman Yunani, Romawi kuno, atau mungkin juga
zaman sebelum itu. Awal abad ke-19 merupakan awal penggunaan beton yang diberi
Baja Tulangan. Mulai saat itu dikembangkan penelitian-penelitian secara
intensif mengenai Beton.
1.3
Bahan-bahan Pembentuk Beton
Adapun bahan-bahan
pembentuk beton akan dijelaskan sebagai berikut :
pembentuk beton akan dijelaskan sebagai berikut :
A. Aggregat Kasar.
Jenis-jenis Aggegar kasar yang umum
sebagai berikut :
sebagai berikut :
a. Batu Pecah Alami. Bahan ini didapat dari Cadas atau
batu pecah alami yang digali. Batu ini dapat berasal dari gunung api, jenis
sedimen, atau jenis metamorf. Meskipun dapat menghasilkan kekuatan yang tinggi
terhadap beton, batu pecah kurang memberikan kemudahan pengerjaan dan
pengecoran dibandingkan dengan jenis Anggregat kasar lainnya.
batu pecah alami yang digali. Batu ini dapat berasal dari gunung api, jenis
sedimen, atau jenis metamorf. Meskipun dapat menghasilkan kekuatan yang tinggi
terhadap beton, batu pecah kurang memberikan kemudahan pengerjaan dan
pengecoran dibandingkan dengan jenis Anggregat kasar lainnya.
b. Kerikil alami. Kerikil didapat dari proses alami,
yakni dari pengikisan tepi maupun dari dasar sungai oleh air yang mengalir.
Kerikil memberikan kekuatan yang rendah dari pada batu pecah, tetapi memberikan
kemudahan pengerjaan yang lebih tinggi.
yakni dari pengikisan tepi maupun dari dasar sungai oleh air yang mengalir.
Kerikil memberikan kekuatan yang rendah dari pada batu pecah, tetapi memberikan
kemudahan pengerjaan yang lebih tinggi.
c. Aggregat Kasar Buatan. Terutama pada slag atau shald (
hasil pembakaran lempung ). Yang biasa digunakan untuk beton yang berbobot
ringan.
hasil pembakaran lempung ). Yang biasa digunakan untuk beton yang berbobot
ringan.
d. Aggregat untuk Pelindung Nuklir. Dengan adanya tuntutan yang
spesifik pada zaman atom sekarang, juga untuk melindungi dari radiasi nuklir
sebagai akibat dari semakin banyaknya pembangkit atom dan stasiun tenaga
nuklir. Maka perlu ada beton yang dapat melindungi sinar X, sinar Gamma, dan
Neutron. Pada beton demikian syarat ekonomis maupun syarat kemudahan pengerjaan
tidak begitu menentukan. Aggregat kasar yang diklasifikasikan di sini misalnya
batu pecah yang berasal dari “ Barit, Magnetit, limonit serta batuan Biji
Besi “.
spesifik pada zaman atom sekarang, juga untuk melindungi dari radiasi nuklir
sebagai akibat dari semakin banyaknya pembangkit atom dan stasiun tenaga
nuklir. Maka perlu ada beton yang dapat melindungi sinar X, sinar Gamma, dan
Neutron. Pada beton demikian syarat ekonomis maupun syarat kemudahan pengerjaan
tidak begitu menentukan. Aggregat kasar yang diklasifikasikan di sini misalnya
batu pecah yang berasal dari “ Barit, Magnetit, limonit serta batuan Biji
Besi “.
Berat
isi beton yang menggunakan Aggregat Batu Pecah dan Kerikil Alami biasanya
adalah sekitar 2100-2600 Kg/m³. Untuk Aggregat Buatan berat isi beton 1400-1800
kg/m³. angka Kehalusan untuk Aggregat Kasar 6,0 – 7,1
isi beton yang menggunakan Aggregat Batu Pecah dan Kerikil Alami biasanya
adalah sekitar 2100-2600 Kg/m³. Untuk Aggregat Buatan berat isi beton 1400-1800
kg/m³. angka Kehalusan untuk Aggregat Kasar 6,0 – 7,1
B.
Aggregat Halus
Aggegat halus merupakan pengisi yang berupa pasir. Ukurannya
bervariasi antara 4,75 – 0,15 mm. ( Untuk saringan Standar Amerika ), Aggregat
halus harus baik yang bebas dari bahan organic, lempung, partikel yang lebih kecil
dari saringan 0,15 mm dan bahan-bahan yang lain dapat merusak beton. Variasi
ukuran butir Aggregat harus mempunyai gradasi yang baik, sesuai dengan standar
analisa saringan yang digunakan. Disamping syarat gradasi butir, berat isi
beton bergantung pada berat isi Aggregat, berarti juga bergantung pada jenis
Aggregatnya, apakah berbobot ringan, normal atau berat. Angka Kehalusan untuk Aggregat halus 2,3 – 3,1.
bervariasi antara 4,75 – 0,15 mm. ( Untuk saringan Standar Amerika ), Aggregat
halus harus baik yang bebas dari bahan organic, lempung, partikel yang lebih kecil
dari saringan 0,15 mm dan bahan-bahan yang lain dapat merusak beton. Variasi
ukuran butir Aggregat harus mempunyai gradasi yang baik, sesuai dengan standar
analisa saringan yang digunakan. Disamping syarat gradasi butir, berat isi
beton bergantung pada berat isi Aggregat, berarti juga bergantung pada jenis
Aggregatnya, apakah berbobot ringan, normal atau berat. Angka Kehalusan untuk Aggregat halus 2,3 – 3,1.
C.
Air
Air
Air yang
diperlukan dalam pembuatan beton agar terjadi reaksi kimiawi dengan semen, untuk
membasahi Aggregat dan untuk melumas campuran agar mudah mengerjakannya. Air
yang mengandung senyawa-senyawa yang berbahaya, yang tercemar garam, minyak,
gula, atau bahan-bahan kimia lain. Bila dipakai untuk campuran beton akan
sangat menurunkan kekuatan beton itu sendiri dan juga dapat mengubah
sifat-sifat semen. Selain itu, air yang demikian dapat mengurangi daya ikat
antara Aggregat dengan pasta semen dan mungkin pula akan mempengaruhi kemudahan
pengerjaan.
diperlukan dalam pembuatan beton agar terjadi reaksi kimiawi dengan semen, untuk
membasahi Aggregat dan untuk melumas campuran agar mudah mengerjakannya. Air
yang mengandung senyawa-senyawa yang berbahaya, yang tercemar garam, minyak,
gula, atau bahan-bahan kimia lain. Bila dipakai untuk campuran beton akan
sangat menurunkan kekuatan beton itu sendiri dan juga dapat mengubah
sifat-sifat semen. Selain itu, air yang demikian dapat mengurangi daya ikat
antara Aggregat dengan pasta semen dan mungkin pula akan mempengaruhi kemudahan
pengerjaan.
Karakter
pasta semen merupakan reaksi kimiawi antara semen dengan air, maka pemakaian
air dalam campuran beton bukanlah perbandingan jumlah air terhadap total (
Semen + Aggregat Halus + Aggregat Kasar ) material yang menentukan, melainkan
hanya perbandingan antara air dan semen. Air yang berlebihan akan menyebabkan
banyaknya gelembung air setelah proses Hidrasi selesai. Sedangkan air yang
terlalu sedikit akan menyebabkan proses Hidrasi tidak seluruhnya selesai.
Sebagai akibatnya beton yang dihasilkan akan kurang kekuatannya.
pasta semen merupakan reaksi kimiawi antara semen dengan air, maka pemakaian
air dalam campuran beton bukanlah perbandingan jumlah air terhadap total (
Semen + Aggregat Halus + Aggregat Kasar ) material yang menentukan, melainkan
hanya perbandingan antara air dan semen. Air yang berlebihan akan menyebabkan
banyaknya gelembung air setelah proses Hidrasi selesai. Sedangkan air yang
terlalu sedikit akan menyebabkan proses Hidrasi tidak seluruhnya selesai.
Sebagai akibatnya beton yang dihasilkan akan kurang kekuatannya.
Tabel : Batasan Maksimum Kandungan Zat Kimiawi
Dalam Air Campuran Beton.
Kandungan Unsur Kimiawi |
Maksimum Konsentrasi (ppm) |
1. Chlrorida ( Cl ) : - Beton Pratekan - Beton Bertulang 2. Sulfat ( So4 ) 3. Alkali ( Na2O + 0,658 K2O ) 4. Total Solids |
500 ppm 1000 ppm 1000 ppm 600 ppm 50000 ppm |
Ppm = Parts per Million
Sebagai perbandingan , analisis air laut mempunyai kandungan unsur
kimiawi sebagai berikut :
kimiawi sebagai berikut :
q Chloride ( Cl ) = ( 3960 - 20000 ) ppm
q Sulfat ( SO4 ) = ( 580 -
2800 ) ppm
2800 ) ppm
q Natrium ( Na ) = ( 2190 -
12200 ) ppm
12200 ) ppm
Jika
melihat kondisi dilapangan tidak memungkinkan maka air laut, air alkalis, air
selokan, air keruh, air asam dapat digunakan untuk pembuatan beton, dengan
catatan selama ada proses pembersihan, sehingga nilai konsentrasi kimia dibawah
nilai maksimum yang diizinkan seperti tabel diatas.
melihat kondisi dilapangan tidak memungkinkan maka air laut, air alkalis, air
selokan, air keruh, air asam dapat digunakan untuk pembuatan beton, dengan
catatan selama ada proses pembersihan, sehingga nilai konsentrasi kimia dibawah
nilai maksimum yang diizinkan seperti tabel diatas.
D.
Semen
Semen dalam hal ini adalah semen Portland,
yaitu sejenis bahan pengikat hidroulisis berbentuk butiran-butiran yang
mengandung kapur ( Ca O ), Silicat ( Si O2 ). Amoniak ( Al2O3
) dan Besi ( Fe2O3 ). Apabila Semen Portland ini diberi
air akan menghasilkan pasta yang jika mengering akan mempunyai kekuatan seperti
batu.
yaitu sejenis bahan pengikat hidroulisis berbentuk butiran-butiran yang
mengandung kapur ( Ca O ), Silicat ( Si O2 ). Amoniak ( Al2O3
) dan Besi ( Fe2O3 ). Apabila Semen Portland ini diberi
air akan menghasilkan pasta yang jika mengering akan mempunyai kekuatan seperti
batu.
Berat Jenis Semen Portland ini berkisar
antara 3,12 – 3,16 dengan berat standar 1 Zak Semen 50 Kg.
antara 3,12 – 3,16 dengan berat standar 1 Zak Semen 50 Kg.
q Jenis-jenis Semen Portland.
Untuk keperluan Konstruksi American Society
Testing and Material ( ASTM C.150 – 94 ).dan Standar Industry Indonesia ( SII.
13 – 81 ), membagi jenis-jenis Semen Portland atas lima tipe dengan
ciri-cirinya sebagai berikut :
Testing and Material ( ASTM C.150 – 94 ).dan Standar Industry Indonesia ( SII.
13 – 81 ), membagi jenis-jenis Semen Portland atas lima tipe dengan
ciri-cirinya sebagai berikut :
Type I : Semen Normal ( Ordinary Portland Cement
), digunakan untuk pembuatan Beton umum. Yang tidak dipengaruhi oleh
sifat-sifat lingkungan yang mengandung bahan-bahan Sulfat dan perbedaaan
temperatur yang Ekstrim. Pemakaian Type I umumnya bagi Konstruksi Beton pada
bangunan :
), digunakan untuk pembuatan Beton umum. Yang tidak dipengaruhi oleh
sifat-sifat lingkungan yang mengandung bahan-bahan Sulfat dan perbedaaan
temperatur yang Ekstrim. Pemakaian Type I umumnya bagi Konstruksi Beton pada
bangunan :
·
Konstruksi Jalan.
Konstruksi Jalan.
·
Bangunan Gedung/pe.rumahan.
Bangunan Gedung/pe.rumahan.
·
Konstruksi Jembatan.
Konstruksi Jembatan.
·
Dll.
Dll.
Type II : Semen dengan ketahanan sedang terhadap
serangan Sulfat ( Modified Portland Cement ), digunakan untuk pencegahan
serangan Sulfat dari lingkungan. Seperti sistim Drainase dengan sifat kadar
konsentrasi Sulfat yang tinggi didalam air tanah.
serangan Sulfat ( Modified Portland Cement ), digunakan untuk pencegahan
serangan Sulfat dari lingkungan. Seperti sistim Drainase dengan sifat kadar
konsentrasi Sulfat yang tinggi didalam air tanah.
Type III : Semen dengan waktu perkerasan yang cepat ( High-Early-Strongth
Portland Cement ). Umumnya dalam jangka waktu kurang dari seminggu. Digunakan
pada struktur-struktur bangunan yang cetakannya harus cepat dibuka dan akan
segera digunakan ditempat lain.
Portland Cement ). Umumnya dalam jangka waktu kurang dari seminggu. Digunakan
pada struktur-struktur bangunan yang cetakannya harus cepat dibuka dan akan
segera digunakan ditempat lain.
Type IV : Semen dengan Hidrasi Panas Rendah (Low Heat Portland Cement). Yang
digunakan pada sturktur-struktur Dam, Pondasi Sumuran, Dermaga dan
bangunan-bangunan lainnya, yang mana panas yang terjadi sewaktu Hidrasi
merupakan faktor penentu bagi keutuhan Beton.
digunakan pada sturktur-struktur Dam, Pondasi Sumuran, Dermaga dan
bangunan-bangunan lainnya, yang mana panas yang terjadi sewaktu Hidrasi
merupakan faktor penentu bagi keutuhan Beton.
Type V : Semen Penangkal Sulfat ( Sulphat Resistant Portland Cement ),
digunakan untuk beton yang lingkungannya mengandung sulfat, kurang baik pada
tanah maupun dalam air dengan kadar sulfat yang tinggi.
digunakan untuk beton yang lingkungannya mengandung sulfat, kurang baik pada
tanah maupun dalam air dengan kadar sulfat yang tinggi.
E.
Bahan Campuran Tambahan ( Admixtures )
Bahan Campuran Tambahan ( Admixtures )
Bahan campuran tambahan merupakan bahan yang
bukan air, Aggregat, maupun Semen, yang ditambahkan dalam campuran sesaat atau
selama pencampuran. Fungsi bahan ini adalah untuk mengubah sifat-sifat beton
agar menjadi cocok untuk pekerjaan tertentu atau ekonomis atau tujuan lainnya
seperti menghemat energi pada waktu pencampuran.
bukan air, Aggregat, maupun Semen, yang ditambahkan dalam campuran sesaat atau
selama pencampuran. Fungsi bahan ini adalah untuk mengubah sifat-sifat beton
agar menjadi cocok untuk pekerjaan tertentu atau ekonomis atau tujuan lainnya
seperti menghemat energi pada waktu pencampuran.
Jenis bahan tambahan yang paling utama sebagai
berikut :
berikut :
Type A : Bahan Tambah untuk mengurangi pemakaian
air ( Water Reducing Admixtures ). Bahan ini berfungsi untuk mengurangi air
dalam beton, dengan demikian dapat menambah kekuatan beton dan mengurangi pemakaian semen yang sebanding
dengan pengurangan kandungan air. Dalam perdagangan bahan ini disebut “
Pozzolith “.
air ( Water Reducing Admixtures ). Bahan ini berfungsi untuk mengurangi air
dalam beton, dengan demikian dapat menambah kekuatan beton dan mengurangi pemakaian semen yang sebanding
dengan pengurangan kandungan air. Dalam perdagangan bahan ini disebut “
Pozzolith “.
Type B : Bahan Tambah untuk memperlambat
waktu ikat ( Retarding Admixtures ). Bahan ini berfungsi untuk memperpanjang
waktu pengikatan beton, dengan demikian proses pengerasan beton dapat
diperlambat atau pengerasannya secara perlahan-lahan. bahan ini juga dapat
digunakan untuk campuran beton siap pakai ( Ready Mix ) guna mengurangi
kehilangan Slumps ( Slumps Loses ) selama Transportasi, juga digunakan untuk
beton massal, penyambung beton ( karena terpaksa keadaan dimana pengecoran
terhenti sementara ). Bahan ini dikenal dengan nama “ Tricosal “.
waktu ikat ( Retarding Admixtures ). Bahan ini berfungsi untuk memperpanjang
waktu pengikatan beton, dengan demikian proses pengerasan beton dapat
diperlambat atau pengerasannya secara perlahan-lahan. bahan ini juga dapat
digunakan untuk campuran beton siap pakai ( Ready Mix ) guna mengurangi
kehilangan Slumps ( Slumps Loses ) selama Transportasi, juga digunakan untuk
beton massal, penyambung beton ( karena terpaksa keadaan dimana pengecoran
terhenti sementara ). Bahan ini dikenal dengan nama “ Tricosal “.
Type C : Bahan tambah untuk mempercepat waktu ikat ( Accelerating Admixture
). Bahan ini berfungsi untuk mempercepat waktu ikat awal beton, sehingga waktu
pengeringan dan pencapaian kekuatan beton dapat dipercepat. Bahan ini sering
digunakan apabila tuntutan waktu pelaksanaan yang sangat mendesak. Bahan ini
dikenal dengan nama “ Sikamen “.
). Bahan ini berfungsi untuk mempercepat waktu ikat awal beton, sehingga waktu
pengeringan dan pencapaian kekuatan beton dapat dipercepat. Bahan ini sering
digunakan apabila tuntutan waktu pelaksanaan yang sangat mendesak. Bahan ini
dikenal dengan nama “ Sikamen “.
Type D : Bahan Tambah untuk mengurangi pemakaian air dan memperlambat waktu
ikat ( Water Reducing An Retarding Admixture ). Bahan ini berfungsi mengurangi
pemakaian air dan sekaligus untuk memperlambat waktu pengikatan awal beton.
Bahan yang digunakan misalnya “ Cormix “.
ikat ( Water Reducing An Retarding Admixture ). Bahan ini berfungsi mengurangi
pemakaian air dan sekaligus untuk memperlambat waktu pengikatan awal beton.
Bahan yang digunakan misalnya “ Cormix “.
Type E : bahan tambah untuk mengurangi pemakaian air dan mempercepat waktu
ikat ( Water Reducing And Accelerating Admixtures ). Jenis bahan dikenal dengan
nama “ Migty “.
ikat ( Water Reducing And Accelerating Admixtures ). Jenis bahan dikenal dengan
nama “ Migty “.
Type F : bahan tambah untuk mengurangi pemakaian air yang lebih tinggi (
Water Reducing High Range Reducing Admixtures ), disebut juga bahan tambahan
kimia pengurang air. Bahan tambah ini berfungsi untuk membuat beton lebih plastis
dengan pemakaian air yang lebih sedikit dan juga dapat menambah Slumps beton.
Dalam perdagangan jenis bahan ini dikenal dengan nama “ Super Plastizer A “.
Water Reducing High Range Reducing Admixtures ), disebut juga bahan tambahan
kimia pengurang air. Bahan tambah ini berfungsi untuk membuat beton lebih plastis
dengan pemakaian air yang lebih sedikit dan juga dapat menambah Slumps beton.
Dalam perdagangan jenis bahan ini dikenal dengan nama “ Super Plastizer A “.
Type G : bahan tambah untuk memperlambat waktu ikat yang lebih tinggi (
Water Reducing High Range Retarding Admixtures ). Bahan tambah ini merupakan
penemuan baru yang berfungsi untuk membuat beton yang lebih plastis dengan
waktu ikat beton yang lebih panjang. Dengan demikian kesempatan yang lebih
longgar untuk melakukan penuangan kedalam cetakan beton. Nama bahan ini
misalnya “ Super Plastizer B “.
Water Reducing High Range Retarding Admixtures ). Bahan tambah ini merupakan
penemuan baru yang berfungsi untuk membuat beton yang lebih plastis dengan
waktu ikat beton yang lebih panjang. Dengan demikian kesempatan yang lebih
longgar untuk melakukan penuangan kedalam cetakan beton. Nama bahan ini
misalnya “ Super Plastizer B “.
F.
Udara
Sebagai akibat terjadinya penguapan air secara perlahan-lahan dari
campuran beton, akan timbul rongga-rongga udara pada beton keras yang
dihasilkan. Jika rongga ini terdistribusi dengan benar, dengan merupakan
Karakteristik beton yang sangat penting. Suatu bahan yang disebut air
entraining agent,seperti vinsol resin dapat ditambahkan kedalam campuran agar
diperoleh rongga yang terdistribusi merata. Adanya rongga-rongga ini memudahkan
dalam pengerjaan beton, mengurangi kerapatannya, menambah keawetan, mengurangi
Bleeding dan Segregasi, dan mengurangi jumlah pasir yang diperlukan dalam
campuran. Karena itulah persentase kandungan udara harus dipertahankan optimum
agar diperoleh beton dengan kwalitas yang diinginkan. Kandungan udara optimum
ini adalah 8% dari fraksi Mortar dalam beton, kandungan udara yang berlebihan
akan menurunkan kekuatan beton.
campuran beton, akan timbul rongga-rongga udara pada beton keras yang
dihasilkan. Jika rongga ini terdistribusi dengan benar, dengan merupakan
Karakteristik beton yang sangat penting. Suatu bahan yang disebut air
entraining agent,seperti vinsol resin dapat ditambahkan kedalam campuran agar
diperoleh rongga yang terdistribusi merata. Adanya rongga-rongga ini memudahkan
dalam pengerjaan beton, mengurangi kerapatannya, menambah keawetan, mengurangi
Bleeding dan Segregasi, dan mengurangi jumlah pasir yang diperlukan dalam
campuran. Karena itulah persentase kandungan udara harus dipertahankan optimum
agar diperoleh beton dengan kwalitas yang diinginkan. Kandungan udara optimum
ini adalah 8% dari fraksi Mortar dalam beton, kandungan udara yang berlebihan
akan menurunkan kekuatan beton.
Secara umum proporsi komposisi bahan-bahan pembentuk beton dapat
diliaht dalam tabel dibawah ini :
diliaht dalam tabel dibawah ini :
Tabel : Komposisi bahan-bahan Pembentuk
Beton
Beton
Aggregat Halus + Aggregat Kasar ( 60 – 80 ) % |
|
Semen Portland ( 7 – 15 ) % |
Udara ( 1 – 8 ) % |
Air ( 14 – 21 ) % |
|
1.4
Perbandingan Campuran
Beton
Perbandingan Campuran
Beton
Pada umumnya perbandingan campuran beton
yang tidak memerlukan pengawasan mutu yang ketat didasarkan atas perbandingan
isi. Cara ini telah berlangsung sejak orang mengenal campuran beton. Tetapi
karena pengalaman menunjukkan bahwa campuran berdasarkan isi tadi kurang
memuaskan hasilnya, maka kini banyak yang telah merubah campuran dengan
perbandingan berat. Dengan campuran berat ini berarti campuran bahan-bahan
didasarkan atas berat dari masing-masing bahan.
yang tidak memerlukan pengawasan mutu yang ketat didasarkan atas perbandingan
isi. Cara ini telah berlangsung sejak orang mengenal campuran beton. Tetapi
karena pengalaman menunjukkan bahwa campuran berdasarkan isi tadi kurang
memuaskan hasilnya, maka kini banyak yang telah merubah campuran dengan
perbandingan berat. Dengan campuran berat ini berarti campuran bahan-bahan
didasarkan atas berat dari masing-masing bahan.
Dalam pelaksanaan Kontrak Konstruksi untuk
pekerjaan-pekerjaan yang kecil kadang-kadang tidak cukup alat-alat untuk
melakukan campuran dalam perbandingan berat, maka campuran satuan dalam isi masih dapat digunakan. Dalam
pemakaian perbandingan isi ini untuk mengurangi terjadinya perbedaan-perbedaan yang
sangat mencolok, maka perlu ditentukan berat isi dari masing-masing bahan (
Semen, Pasir, dan kerikil ) juga keadaan dari masing-masing bahan itu kadar air
dan daya serapnya.
pekerjaan-pekerjaan yang kecil kadang-kadang tidak cukup alat-alat untuk
melakukan campuran dalam perbandingan berat, maka campuran satuan dalam isi masih dapat digunakan. Dalam
pemakaian perbandingan isi ini untuk mengurangi terjadinya perbedaan-perbedaan yang
sangat mencolok, maka perlu ditentukan berat isi dari masing-masing bahan (
Semen, Pasir, dan kerikil ) juga keadaan dari masing-masing bahan itu kadar air
dan daya serapnya.
Sebagai pedoman dalam perbandingan isi, semen biasanya dihitung
rata-rata mempunyai berat = 1,25 Kg/1 : Pasir 1,45 Kg/l sedang
Kerikil 1,6 Kg/l. Sebaiknya hal tersebut selalu diselidiki lebih dahulu di
Laboratorium untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya, karena kenyataan
menunjukkan bahwa berat isi dari masing-masing bahan tersebut diatas
terpengaruh sangat dalam pengisian serta kadar air dan daya serap, terutama
untuk pasir dan kerikil.
rata-rata mempunyai berat = 1,25 Kg/1 : Pasir 1,45 Kg/l sedang
Kerikil 1,6 Kg/l. Sebaiknya hal tersebut selalu diselidiki lebih dahulu di
Laboratorium untuk mengetahui keadaan yang sesungguhnya, karena kenyataan
menunjukkan bahwa berat isi dari masing-masing bahan tersebut diatas
terpengaruh sangat dalam pengisian serta kadar air dan daya serap, terutama
untuk pasir dan kerikil.
1.5
Sifat-sifat Beton
Sifat-sifat Beton
Adapun sifat-sifat yang penting
dari Beton sebagai berikut :
dari Beton sebagai berikut :
q Kekuatan, Sifat-sifat beton ditinjau dari
sudut pemakaian yang terpenting ialah beton harus memiliki sifat-sifat yang
sesuai dengan tujuan pemakaian. Sebagai contoh, suatu Kolom Beton yang
terpenting harus dimiliki adalah kekuatan tekan yang cukup untuk menahan beban
Konstruksi, sehingga sifat kerapatan airnya relatif tidak begitu penting
diperhatikan. Sebaliknya lantai dari suatu bak air penting diamati sifat
kerapatan airnya daripada sifat kekuatan tekanya. Sedangkan beton untuk jalan
yang perlu mendapat perhatian kekuatan lenturnya. Sehubungan dengan kekuatan tekan beton ini, maka dalam Peratuan
Beton Indonesia ( PBI. 71 ) telah ditetapkan kelas dan mutu beton sebagai
berikut :
sudut pemakaian yang terpenting ialah beton harus memiliki sifat-sifat yang
sesuai dengan tujuan pemakaian. Sebagai contoh, suatu Kolom Beton yang
terpenting harus dimiliki adalah kekuatan tekan yang cukup untuk menahan beban
Konstruksi, sehingga sifat kerapatan airnya relatif tidak begitu penting
diperhatikan. Sebaliknya lantai dari suatu bak air penting diamati sifat
kerapatan airnya daripada sifat kekuatan tekanya. Sedangkan beton untuk jalan
yang perlu mendapat perhatian kekuatan lenturnya. Sehubungan dengan kekuatan tekan beton ini, maka dalam Peratuan
Beton Indonesia ( PBI. 71 ) telah ditetapkan kelas dan mutu beton sebagai
berikut :
a. Beton Klas I, adalah beton untuk
pekerjaan-pekerjaan non structural. Mutu beton kelas I ini dinyatakan dengan
B0.
pekerjaan-pekerjaan non structural. Mutu beton kelas I ini dinyatakan dengan
B0.
b. Beton Klas II, adalah beton untuk pekerjaan
structural secara umum. Untuk mutu beton kelas II dibagi atas mutu-mutu standar
B1 ( K125 : K175 : K225 ).
structural secara umum. Untuk mutu beton kelas II dibagi atas mutu-mutu standar
B1 ( K125 : K175 : K225 ).
c. Beton Klas III, adalah beton untuk
pekerjaan-pekerjaan structural dengan kekuatan tekan karakteristik yang lebih
tinggi dari 225 Kg/cm2. Mutu beton kelas III dinyatakan dengan huruf
K, dengan angka dibelakangnya menyatakan kekuatan tekan Karakteristik beton
yang bersangkutan.
pekerjaan-pekerjaan structural dengan kekuatan tekan karakteristik yang lebih
tinggi dari 225 Kg/cm2. Mutu beton kelas III dinyatakan dengan huruf
K, dengan angka dibelakangnya menyatakan kekuatan tekan Karakteristik beton
yang bersangkutan.
q Mudah dikerjakan ( Workability ), Workability diartikan kemudahan untuk dikerjakan, dalam hal ini
harus dipertimbangkan bahwa beton yang dibuat harus mudah dicampur, diangkut,
dituangkan dan dipadatkan. Penentuan apakah Workability sudah terpenuhi dapat
dilakukan dengan menggunakan alat “ Slumps Test “.dengan menggunakan
alat ini dapat di ukur tinggi/angka dari suatu campuran beton. Menurut
Kardiyono ( 1989 ),apabila pemampatan dilakukan dengan tidak biasa ( tidak
memakai alat penggetar ). Maka angka Slumps diambil 75 mm. Selanjutnya apabila
dilakukan pemadatan dengan alat penggetar, maka angka Slumps yang diambil 50
mm.
harus dipertimbangkan bahwa beton yang dibuat harus mudah dicampur, diangkut,
dituangkan dan dipadatkan. Penentuan apakah Workability sudah terpenuhi dapat
dilakukan dengan menggunakan alat “ Slumps Test “.dengan menggunakan
alat ini dapat di ukur tinggi/angka dari suatu campuran beton. Menurut
Kardiyono ( 1989 ),apabila pemampatan dilakukan dengan tidak biasa ( tidak
memakai alat penggetar ). Maka angka Slumps diambil 75 mm. Selanjutnya apabila
dilakukan pemadatan dengan alat penggetar, maka angka Slumps yang diambil 50
mm.
q Kerapatan, yang dimaksud kerapatan ialah ruang
atau rongga yang ada pada beton. Sedapat mungkin rongga-rongga ini di isi oleh
Aggregat dan pasta semen. Kerapatan merupakan salah satu kriteria yang perlu
diperhatikan untuk beton-beton yang kedap air seperti pembuatan Kap Beton, Plat
Lantai Reservoa air dan sejenisnya. Disamping itu permukaan beton terutama
untuk beton Ekspos harus mempunyai kerapatan dan kekerasan tekstur yang tahan
segala perubahan cuaca dan temperatur.
atau rongga yang ada pada beton. Sedapat mungkin rongga-rongga ini di isi oleh
Aggregat dan pasta semen. Kerapatan merupakan salah satu kriteria yang perlu
diperhatikan untuk beton-beton yang kedap air seperti pembuatan Kap Beton, Plat
Lantai Reservoa air dan sejenisnya. Disamping itu permukaan beton terutama
untuk beton Ekspos harus mempunyai kerapatan dan kekerasan tekstur yang tahan
segala perubahan cuaca dan temperatur.
q Kekekalan Bentuk ( Durabillity ), bahwa beton tidak boleh mengembang
dan menyusut yang akan menimbulkan retak-retak rambut sampai yang berbahaya
menjadi pecah setelah beton mengeras. Kekekalan ini tergantung pada kadar
Kalsium Oksida ( Ca O )dan kadar Magnesium Aksida ( Mg O ) dari semen yang
digunakan. Standar PBI. 71 memberikan batasan untuk semen kadar Ca O Maksimal
2% dan kadar Mg O > 5%. Untuk pekerjaan beton dengan mutu tinggi kandungan
kadar Ca O dan Mg O ini dalam semen perlu dilakukan pengujian ulang terhadap
semen yang digunakan.
dan menyusut yang akan menimbulkan retak-retak rambut sampai yang berbahaya
menjadi pecah setelah beton mengeras. Kekekalan ini tergantung pada kadar
Kalsium Oksida ( Ca O )dan kadar Magnesium Aksida ( Mg O ) dari semen yang
digunakan. Standar PBI. 71 memberikan batasan untuk semen kadar Ca O Maksimal
2% dan kadar Mg O > 5%. Untuk pekerjaan beton dengan mutu tinggi kandungan
kadar Ca O dan Mg O ini dalam semen perlu dilakukan pengujian ulang terhadap
semen yang digunakan.
1.6
Faktor-faktor yang mempengaruhi Mutu Beton
Faktor-faktor yang mempengaruhi Mutu Beton
Mutu
beton dalam hal ini diukur dengan kekuatan dan kemudahan pengerjaan yang
dicapai, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
beton dalam hal ini diukur dengan kekuatan dan kemudahan pengerjaan yang
dicapai, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor sebagai berikut :
1. Aggregat,
Aggregat yang dipakai untuk
beton harus memenuhi syarat-syarat :
q Bersih.
q Keras.
q Bebas dari sifat penyerapan secara
kimia.
kimia.
q Gradasi ukuran butir memenuhi
ketentuan-ketentuan standar yang ditetapkan.
ketentuan-ketentuan standar yang ditetapkan.
2. Faktor Air Semen ( F.A.S =
)
Factor
air semen adalah angka perbandingan berat air terhadap berat semen, dalam
campuran beton. Factor air semen erat sekali hubungannya dengan kekuatan tekan
beton. Hubungan antara factor air semen dan kuat tekan beton secara umum dapat
terlihat dengan rumus yang diusulkan olah
“ Duff Abrams ( 1919 )”, seperti
yang dikutip oleh “ Neville, A. M ( 1978 ) “,sebagai berikut :
air semen adalah angka perbandingan berat air terhadap berat semen, dalam
campuran beton. Factor air semen erat sekali hubungannya dengan kekuatan tekan
beton. Hubungan antara factor air semen dan kuat tekan beton secara umum dapat
terlihat dengan rumus yang diusulkan olah
“ Duff Abrams ( 1919 )”, seperti
yang dikutip oleh “ Neville, A. M ( 1978 ) “,sebagai berikut :
S =
Dimana : S = Kuat Tekan Beton.
K1 dan K2 = Konstanta Empiris.
Dari rumus diatas terlihat bahwa semakin besar faktor air semen, semakin
rendah kekuatan tekan beton.
rendah kekuatan tekan beton.
3. Temperatur perawatan
Makin
tinggi temperatur perawatan, akan mempercepat proses pengerasan ( Hidrasi )
semen pada umur beton > 7 Hari. Akan tetapi bersifat kebalikan setelah
berumur 7 Hari. Dalam hal ini karena terjadi proses Hidrasi awal yang cepat
pada temperatur lebih tinggi akan memperlambat/menunda proses Hidrasi
selanjutnya, sehingga tidak cukup waktu bagi hasil-hasil Hidrasi yang jauh
lebih dari butiran sama untuk berdifusi. Kutipan “ Kardiyono “. :
temperatur perawatan mempengaruhi sekali pembentukan kekuatan tekan beton.
Hasil-hasil pengujian menunjukkan bahwa diperlukan perawatan yang lebih lama
pada suhu rendah untuk mencapai kuat tekan beton tertentu, dibandingkan
temperatur lebih tinggi “.
tinggi temperatur perawatan, akan mempercepat proses pengerasan ( Hidrasi )
semen pada umur beton > 7 Hari. Akan tetapi bersifat kebalikan setelah
berumur 7 Hari. Dalam hal ini karena terjadi proses Hidrasi awal yang cepat
pada temperatur lebih tinggi akan memperlambat/menunda proses Hidrasi
selanjutnya, sehingga tidak cukup waktu bagi hasil-hasil Hidrasi yang jauh
lebih dari butiran sama untuk berdifusi. Kutipan “ Kardiyono “. :
temperatur perawatan mempengaruhi sekali pembentukan kekuatan tekan beton.
Hasil-hasil pengujian menunjukkan bahwa diperlukan perawatan yang lebih lama
pada suhu rendah untuk mencapai kuat tekan beton tertentu, dibandingkan
temperatur lebih tinggi “.
4. Umur Beton
Dengan
bertambah umur beton maka akan bertambah kekuatan tekan beton. Kecepatan
bertambahnya kekuatan beton tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor,
diantaranya factor air semen, dan temperatur perawatan. Semakin lambat kenaikan
kekuatan tekan betonnya, dan semakin tinggi temperatur perawatan semakin cepat
kenaikan kekuatan tekan betonnya.
bertambah umur beton maka akan bertambah kekuatan tekan beton. Kecepatan
bertambahnya kekuatan beton tersebut dipengaruhi oleh beberapa factor,
diantaranya factor air semen, dan temperatur perawatan. Semakin lambat kenaikan
kekuatan tekan betonnya, dan semakin tinggi temperatur perawatan semakin cepat
kenaikan kekuatan tekan betonnya.
Hal ini
sesuai dengan pendapat Neville, A. M ( 1978 ) yang menyatakan :
sesuai dengan pendapat Neville, A. M ( 1978 ) yang menyatakan :
“
proses pengerasan beton dengan factor air semen yang rendah, akan lebih cepat
dibandingkan beton yang menggunakan nilai factor air semen yang lebih tinggi.
Walaupun demikian pada saat beton sama-sama berumur 28 Hari kekuatan akan
mencapai 100% dari kekuatan tekan beton yang sebenarnya dari masing-masing
jenis beton tersebut “.
proses pengerasan beton dengan factor air semen yang rendah, akan lebih cepat
dibandingkan beton yang menggunakan nilai factor air semen yang lebih tinggi.
Walaupun demikian pada saat beton sama-sama berumur 28 Hari kekuatan akan
mencapai 100% dari kekuatan tekan beton yang sebenarnya dari masing-masing
jenis beton tersebut “.
Selanjutnya
Peraturan Beton Indonesia ( PBI. 71 ) menyebutkan : “ beton yang menggunakan
jenis semen sama kekuatan tekan beton mencapai 100% pada saat beton telah
berumur 28 Hari “.
Peraturan Beton Indonesia ( PBI. 71 ) menyebutkan : “ beton yang menggunakan
jenis semen sama kekuatan tekan beton mencapai 100% pada saat beton telah
berumur 28 Hari “.
PENGECORAN, PERAWATAN DAN PENGUJIAN
KUALITAS BETON
2.1
Pengecoran
Pengecoran
Teknik pengecoran beton tergantung dari untuk apa beton tersebut
digunakan seperti untuk Kolom, Balok, Dinding, Plat, Pondasi, Beton Massal atau
penyambung beton yang sudah mengeras. Untuk Kolom, Balok, Dinding, dan Plat
cetakannya harus bersih dari kotoran dan karat yang dapat merugikan betonnya
sendiri. Pada pondasi, tanah dasar harus dipadatkan dan dibasahi agar air yang
ada pada beton basah tidak diserap oleh tanah.
digunakan seperti untuk Kolom, Balok, Dinding, Plat, Pondasi, Beton Massal atau
penyambung beton yang sudah mengeras. Untuk Kolom, Balok, Dinding, dan Plat
cetakannya harus bersih dari kotoran dan karat yang dapat merugikan betonnya
sendiri. Pada pondasi, tanah dasar harus dipadatkan dan dibasahi agar air yang
ada pada beton basah tidak diserap oleh tanah.
Beton harus dicor dengan lapisan-lapisan horizontal, dan setiap
lapisan dipadatkan dengan memkai alat penggetar “ Vibrator “, yang
berfrekuensi tinggi, baik itu jenisnya yang dicelupkan atau jenis eksternal,
kecuali apabila digunakan Pompa. Teknik vibrator harus mengikuti petunjuk yang
diberikan pada alat Vibrator tersebut.
lapisan dipadatkan dengan memkai alat penggetar “ Vibrator “, yang
berfrekuensi tinggi, baik itu jenisnya yang dicelupkan atau jenis eksternal,
kecuali apabila digunakan Pompa. Teknik vibrator harus mengikuti petunjuk yang
diberikan pada alat Vibrator tersebut.
2.2
Perawatan ( Curing )
Perawatan ( Curing )
Proses Hidrasi semen akan terjadi dengan baik pada Temperatur
pada 21º - 27º C. kondisi ini sedapat mungkin dipertahankan agar reaksi kimiawi
semen berjalan dengan sempurna. Jika beton basah terlalu cepat mengering akan
terjadi retak-retak pada oermukaan beton yang sudah mengeras. Akibat
retak-retak ini apabila terlalu jauh menjalar kedalam beton, akan mengurangi
kekuatan beton.
pada 21º - 27º C. kondisi ini sedapat mungkin dipertahankan agar reaksi kimiawi
semen berjalan dengan sempurna. Jika beton basah terlalu cepat mengering akan
terjadi retak-retak pada oermukaan beton yang sudah mengeras. Akibat
retak-retak ini apabila terlalu jauh menjalar kedalam beton, akan mengurangi
kekuatan beton.
Kondisi perawatan beton yang baik dicapai dengan menggunakan salah
satu metode dibawah ini :
satu metode dibawah ini :
1.
Beton dibasahi terus menerus
dengan air.
Beton dibasahi terus menerus
dengan air.
2.
Beton dilindungi dengan karung
basah, Film Plastik, atau dengan perawatan khusus tahan air.
Beton dilindungi dengan karung
basah, Film Plastik, atau dengan perawatan khusus tahan air.
3.
Beton direndam dalam air (
untuk uji beton .
Beton direndam dalam air (
untuk uji beton .
4.
Beton dibasahi dengan membran
air.
Beton dibasahi dengan membran
air.
Lamanya perawatan point 1 – 4
sekitar 5 sampai 7 Hari, tergantung kepada kelembapan udara. Khusus
untuk beton uji, perawatan ( Curing ) hendaknya betul-betul dilaksanakan
sebaik-baiknya, dengan menjaga temperatur sekitar 21º - 27º C. kesalahan dalam
mengatur mengatur temperatur ini akan berakibat rendahnya mutu beton yang
diperoleh. Karena sulitnya mendapatkan kondisi temperatur ini, untuk pengerjaan
dilapangan sebaiknya setelah 1 x 24 jam beton uji segera dikirim ke
Laboratorium untuk dilakukan perawatan ( Curing
) yang baik.
sekitar 5 sampai 7 Hari, tergantung kepada kelembapan udara. Khusus
untuk beton uji, perawatan ( Curing ) hendaknya betul-betul dilaksanakan
sebaik-baiknya, dengan menjaga temperatur sekitar 21º - 27º C. kesalahan dalam
mengatur mengatur temperatur ini akan berakibat rendahnya mutu beton yang
diperoleh. Karena sulitnya mendapatkan kondisi temperatur ini, untuk pengerjaan
dilapangan sebaiknya setelah 1 x 24 jam beton uji segera dikirim ke
Laboratorium untuk dilakukan perawatan ( Curing
) yang baik.
2.3
Pengujian Kualitas Pada
Beton
Pengujian Kualitas Pada
Beton
Pengujian Kualitas beton pada dasarnya adalah untuk memeriksa mutu
beton yang dihasilkan baik pada Beton Basah maupun pada beton Keras. Pengujian
di Lapangan maupun di Laboratorium sebahagian besar pengujian dilaksanakan di
Laboratorium.
beton yang dihasilkan baik pada Beton Basah maupun pada beton Keras. Pengujian
di Lapangan maupun di Laboratorium sebahagian besar pengujian dilaksanakan di
Laboratorium.
Adapun ruang lingkup pengujian yang dilakukan sebagai berikut :
1.
Pengujian Beton Basah.
Pengujian Beton Basah.
Pengujian pada Beton Basah dapat dibagi atas
:
:
a.
Pengujian Kemudahan Pengerjaan.
Pengujian Kemudahan Pengerjaan.
Pengujian dapat dilakukan dengan cara
:
:
-
Tes Slumps, diperoleh angka
Slumps.
Tes Slumps, diperoleh angka
Slumps.
-
Tes Pengecoan dengan
menggunakan Tabel Alir Power.
Tes Pengecoan dengan
menggunakan Tabel Alir Power.
-
Tes Bola Kelly.
Tes Bola Kelly.
Yang sering digunakan ialah dengan
memakai tes Slumps. Karena proses pengujian dan alat yang digunakan tidak
terlalu rumit. Dapat dilakukan dilapangan dan di Laboratorium dan hasilnya
segera dapat diperoleh.
memakai tes Slumps. Karena proses pengujian dan alat yang digunakan tidak
terlalu rumit. Dapat dilakukan dilapangan dan di Laboratorium dan hasilnya
segera dapat diperoleh.
b. Pengujian
Kadar Udara.
Kadar Udara.
Kadar udara ada beton sebaiknya telah
diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya pemisahan butiran Aggregat Halus
dan Aggregat Kasar ( Segresi ) dan kemungkinan timbulnya air dipermukaan beton
( Bleeding ).
diperiksa untuk mengetahui kemungkinan adanya pemisahan butiran Aggregat Halus
dan Aggregat Kasar ( Segresi ) dan kemungkinan timbulnya air dipermukaan beton
( Bleeding ).
c. Pengujian
Waktu Ikat Awal dan Akhir.
Waktu Ikat Awal dan Akhir.
Waktu ikat awal adalah waktu yang diperlukan
oleh adukan beton dari saat permulaan kontak antara air dan semen, untuk
mencapai tekanan penetrasi 35 Kg/cm2 ( maks. 150 menit ). Sedangkan
waktu ikat akhir yaitu waktu yang diperlukan oleh adukan beton dari saat
permulaan kontak antara air dan semen untuk mencapai tekanan penetrasi 276
Kg/cm2 ( maks. 320 menit ).
oleh adukan beton dari saat permulaan kontak antara air dan semen, untuk
mencapai tekanan penetrasi 35 Kg/cm2 ( maks. 150 menit ). Sedangkan
waktu ikat akhir yaitu waktu yang diperlukan oleh adukan beton dari saat
permulaan kontak antara air dan semen untuk mencapai tekanan penetrasi 276
Kg/cm2 ( maks. 320 menit ).
d. Pengujain Berat Isi
pengujian ini untuk mengetahui berat isi
padat dari beton basah. Data ini digunakan untuk mengetahui berat 1 m3
beton. Dan jika diperlukan dapat digunakan untuk menganalisa rancangan campuran
beton.
padat dari beton basah. Data ini digunakan untuk mengetahui berat 1 m3
beton. Dan jika diperlukan dapat digunakan untuk menganalisa rancangan campuran
beton.
2. Pengujian
Beton Basah
Beton Basah
Pengujian
Beton Basah meliputi :
Beton Basah meliputi :
a.
Kekuatan Tekan.
Kekuatan Tekan.
Kekuatan tekan beton dapat dicapai
sampai 980 Kg/cm2, atau lebih, tergantung pada jenis campuran,
sifat-sifat Aggregat, serta waktu dan kwalitas perawatan. Kekuatan beton yang
umum digunakan 210 sampai 420 Kg/cm2 dan beton komersial dengan
Aggregat biasa, kekuatannya sekitar 210 sampai 700 Kg/cm2. Kekuatan
Tekan dapat ditentukan dengan Beton Uji berbentuk Silinder atau Kubus
yang dirawat di bawah kondisi standar Laboratorium temperatur 21º - 27º C.
sampai 980 Kg/cm2, atau lebih, tergantung pada jenis campuran,
sifat-sifat Aggregat, serta waktu dan kwalitas perawatan. Kekuatan beton yang
umum digunakan 210 sampai 420 Kg/cm2 dan beton komersial dengan
Aggregat biasa, kekuatannya sekitar 210 sampai 700 Kg/cm2. Kekuatan
Tekan dapat ditentukan dengan Beton Uji berbentuk Silinder atau Kubus
yang dirawat di bawah kondisi standar Laboratorium temperatur 21º - 27º C.
b.
Kekuatan Tarik.
Kekuatan Tarik.
Kekuatan Tarik beton relatif rendah.
Pendekatan yang baik untuk menghitung kekuatan tarik beton Ktr
adalah dengan rumus 0,10 K1 < K1tr < 0,2
K1, dimana K1 adalah kekuatan Tekan. Kekuatan Tarik lebih
sulit diukur dibandingkan dengan kekuatan tekan karena masalah penjepitan (
Griping ) pada mesin. Alat yang umum dipakai untuk mengukur Kekuatan Tarik
yaitu “ Tes Pembelahan Silinder dan Tes Brasil”.
Pendekatan yang baik untuk menghitung kekuatan tarik beton Ktr
adalah dengan rumus 0,10 K1 < K1tr < 0,2
K1, dimana K1 adalah kekuatan Tekan. Kekuatan Tarik lebih
sulit diukur dibandingkan dengan kekuatan tekan karena masalah penjepitan (
Griping ) pada mesin. Alat yang umum dipakai untuk mengukur Kekuatan Tarik
yaitu “ Tes Pembelahan Silinder dan Tes Brasil”.
c.
Kekuatan Geser.
Kekuatan Geser.
Kekuatan Geser lebih sulit diperoleh
Eksperimental disbandingkan dengan pengujian Tekan dan Tarik, karena sulitnya
mengisolasi Geser dari tegangan-tegangan lainnya. Ini merupakan salah satu
banyaknya variasi kekuatan Geser yang ditulis dalam berbagai bentuk Literatur,
mulai dari 20% - 85% dari kekuatan Tekan pada pembebanan normal. Dalam
perencanaan Konstruksi kekuatan Geser jarang diperhitungkan , biasanya diambil
harga terendah yaitu 20% dari kekuatan Tekan.
Eksperimental disbandingkan dengan pengujian Tekan dan Tarik, karena sulitnya
mengisolasi Geser dari tegangan-tegangan lainnya. Ini merupakan salah satu
banyaknya variasi kekuatan Geser yang ditulis dalam berbagai bentuk Literatur,
mulai dari 20% - 85% dari kekuatan Tekan pada pembebanan normal. Dalam
perencanaan Konstruksi kekuatan Geser jarang diperhitungkan , biasanya diambil
harga terendah yaitu 20% dari kekuatan Tekan.
d.
Kekuatan Lentur.
Kekuatan Lentur.
Kekuatan lentur diperlukan jika Konstruksi
mengalami pelenturan akibat pembebanan. Untuk batang yang mengalami lentur yang
dipakai untuk perencanaan adalah besarnya Modulus Nepture ( Knr ). Modulus
Nepture ini diukur dari percobaan Balok Beton ukuran 152 x 152 x 457 mm, yang
ditempatkan pada 2 tumpuan dan diberi beban pada tiga titik. Besarnya Modulus
Nepture ( Knr ), ACI memspesifikasikan Krn = 7,5 ( K1 )0,5
untuk Beton Normal.
mengalami pelenturan akibat pembebanan. Untuk batang yang mengalami lentur yang
dipakai untuk perencanaan adalah besarnya Modulus Nepture ( Knr ). Modulus
Nepture ini diukur dari percobaan Balok Beton ukuran 152 x 152 x 457 mm, yang
ditempatkan pada 2 tumpuan dan diberi beban pada tiga titik. Besarnya Modulus
Nepture ( Knr ), ACI memspesifikasikan Krn = 7,5 ( K1 )0,5
untuk Beton Normal.
PENGUJIAN KUAT TEKAN BETON
3.1 Tujuan
Pengujian
terhadap Kekuatan Beton Uji bertujuan untuk mengetahui mutu kekuatan Tekan
serta perkembangan kekuatan beton dalam jangka waktu tertentu. Pengujian
kekuatan tekan pada dasarnya adalah pekerjaan evaluasi terhadap beton yang
dikerjakan baik untuk beton hasil rancangan maupun beton yang dilaksanakan
dilapangan, melalui Betun Uji.
terhadap Kekuatan Beton Uji bertujuan untuk mengetahui mutu kekuatan Tekan
serta perkembangan kekuatan beton dalam jangka waktu tertentu. Pengujian
kekuatan tekan pada dasarnya adalah pekerjaan evaluasi terhadap beton yang
dikerjakan baik untuk beton hasil rancangan maupun beton yang dilaksanakan
dilapangan, melalui Betun Uji.
3.2
Bentuk Beton Uji
Bentuk Beton Uji
Beton
uji untuk penentuan kuat tekan dapat berbentuk kubus atau silinder. Di
Indonesia maupun negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman bentuk beton uji
yang digunakan adalah Kubus. Sedangkan Amerika, Canada, Australia dan New
Zealand bentuk beton uji yang dipakai adalah Silinder.
uji untuk penentuan kuat tekan dapat berbentuk kubus atau silinder. Di
Indonesia maupun negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman bentuk beton uji
yang digunakan adalah Kubus. Sedangkan Amerika, Canada, Australia dan New
Zealand bentuk beton uji yang dipakai adalah Silinder.
Untuk
memberikan gambaran bentuk dan ukuran beton uji yang digunakan dalam pengujian
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
memberikan gambaran bentuk dan ukuran beton uji yang digunakan dalam pengujian
dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel :
Bentuk dan ukuran Beton Uji
Bentuk dan ukuran Beton Uji
Bentuk |
Ukuran |
Ket |
|
( Cm ) |
( Inchi ) |
||
A. Kubus |
10 x 10 x 10 12 x 12 x 12 15 x 15 x 15 20 x 20 x 20 25 x 25 x 25 30 x 30 x 30 |
( 4 x 4 x 4 ) ( 5 x 5 x 5 ) ( 6 x 6 x 6 ) ( 8 x 8 x 8 ) ( 10 x 10 x 10 ) ( 12 x 12 x 12 ) |
|
B. Silinder |
Ø 15 / 30 Ø 15 / 45 Ø 15 / 55 Ø 25 / 75 |
Ø 6 / 12 Ø 6 / 18 Ø 10 / 20 Ø 10 / 30 |
|
Selanjutnya
bentuk dan ukuan beton menurut standar PBI. 71 serta faktor pembanding Kuat
Tekan hasil pengujian dapat dilihat pada tabel berikut ini :
bentuk dan ukuan beton menurut standar PBI. 71 serta faktor pembanding Kuat
Tekan hasil pengujian dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel :
Bentuk dan ukuran Beton Uji Menurut PBI. 71
Bentuk dan ukuran Beton Uji Menurut PBI. 71
Bentuk |
Ukuran ( cm ) |
Faktor Pembanding* ) |
A. Kubus |
15 x 15 x 15 20 x 20 x 20 |
1,00 0,95 |
B. Silinder |
Ø 15 / 30 Ø 15 / 45 |
0,83 0,80 |
* ) Nilai Kuat Tekan terhadap
Beton Uji ukuran 15 x 15 x 15 cm
Beton Uji ukuran 15 x 15 x 15 cm
Untuk mendapatkan Presisi ukuran beton uji dan
untuk menjaga pasta semen tidak keluar pada waktu pembuatan, diperlukan cetakan
beton uji dari Metal atau Logam yang dapat dibongkar pasang dengan mudah. Untuk
keperluan, dipasaran sudah tersedia sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
untuk menjaga pasta semen tidak keluar pada waktu pembuatan, diperlukan cetakan
beton uji dari Metal atau Logam yang dapat dibongkar pasang dengan mudah. Untuk
keperluan, dipasaran sudah tersedia sesuai dengan ukuran yang diinginkan.
3.3
Pengambilan Contoh Beton Uji
Pengambilan Contoh Beton Uji
Contoh
Beton uji diambil ditempat dekat pengecoran, dimana beton yang akan dituang.
Beton yang diangkut secara Pneumatic atau dengan Pompa diambil diujung pompa (
pipa pengangkut ). Bila contoh terpaksa harus diambil dari alat pengangkut yang
lain ( Talang atau Conveyor ) ambillah contoh pada bagian agak jauh ke tengah
dari ujung Conveyor dengan memberhentikan atau dengan Sekop-sekop yang berujung
bulat. Contoh-contoh diambil sedemikian banyaknya hingga lebih lebih sedikit
pada kebutuhan.
Beton uji diambil ditempat dekat pengecoran, dimana beton yang akan dituang.
Beton yang diangkut secara Pneumatic atau dengan Pompa diambil diujung pompa (
pipa pengangkut ). Bila contoh terpaksa harus diambil dari alat pengangkut yang
lain ( Talang atau Conveyor ) ambillah contoh pada bagian agak jauh ke tengah
dari ujung Conveyor dengan memberhentikan atau dengan Sekop-sekop yang berujung
bulat. Contoh-contoh diambil sedemikian banyaknya hingga lebih lebih sedikit
pada kebutuhan.
Contoh-contoh
yang diambil dikumpulkan, kemudian diaduk lagi hingga merata. Pengadukan
hendaknya cukup sedemikian rupa sekedar untuk mendapat campuran rata saja.
Pengadukan kembali yang terlalu lama tidak baik hasilnya, terutama bila beton
tadi mempergunakan bahan mentah pembentuk gelembung udara, karena dapat
mengurangi kadar udara yang ada.
yang diambil dikumpulkan, kemudian diaduk lagi hingga merata. Pengadukan
hendaknya cukup sedemikian rupa sekedar untuk mendapat campuran rata saja.
Pengadukan kembali yang terlalu lama tidak baik hasilnya, terutama bila beton
tadi mempergunakan bahan mentah pembentuk gelembung udara, karena dapat
mengurangi kadar udara yang ada.
3.4
Jumlah Beton Uji
Jumlah Beton Uji
Untuk
mengambil jumlah beton uji biasanya setiap titik/tempat pengecoran dibuat
paling sedikit 3 buah beton uji atau sekurang-kurangnya 20 buah betun uji untuk
setiap mutu beton yang dibuat. Ada kalanya untuk pekerjaan yang besar, hanya
dibuat sedikit beton uji dengan pertimbangan bahwa untuk pekerjaan itu
dipergunakan perlengkapan mekanik, sehingga dianggap betonnya akan lebih
merata.
mengambil jumlah beton uji biasanya setiap titik/tempat pengecoran dibuat
paling sedikit 3 buah beton uji atau sekurang-kurangnya 20 buah betun uji untuk
setiap mutu beton yang dibuat. Ada kalanya untuk pekerjaan yang besar, hanya
dibuat sedikit beton uji dengan pertimbangan bahwa untuk pekerjaan itu
dipergunakan perlengkapan mekanik, sehingga dianggap betonnya akan lebih
merata.
Ada
beberapa anjuran untuk mengambil berapa banyak contoh yang harus dibuat. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut :
beberapa anjuran untuk mengambil berapa banyak contoh yang harus dibuat. Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat tabel berikut :
Tabel :
Banyaknya Beton Uji Untuk Pengujian Kuat Tekan
Banyaknya Beton Uji Untuk Pengujian Kuat Tekan
Jenis Pekerjaan |
Jumlah minimal beton uji/jenis pengujian untuk tiap kelas beton |
Sumber Acuan ini |
Gedung : Beton Bertulang pada umumnya |
3 benda uji tiap hari atau tiap masa kerja ( Shift ) |
ACI. 318 |
1 Pengujian ( 3 Beton Uji untuk tiap 200 m3 |
ACI. 318 |
|
Ready Mix Concret ( bila kekuatan sebagai dasar penerimaan ) |
1 Pengujian ( 3 Beton Uji tiap kelas ; 1 Pengujian untuk tiap 50 Muatan/Angkutan ) |
ASTM C.94 |
Beton Untuk Jalan |
2 Benda Uji untuk tiap 800 m2 |
ACI. 617 |
Bendungan ( Dam ) atau Beton masa pada umurnya |
2 Pengujian ( 6 Beton Uji ) tiap masa kerja ( Shift ) |
Kebiasaan |
Rancangan Campuran Beton |
10 Buah |
Anjuran |
3.5
Menerap Beton Uji ( Capping )
Menerap Beton Uji ( Capping )
Bidang-bidang
Tekan beton uji biasanya tidak cukup rata dan halus. Karena pembebanan tang
merata selama pengujian membutuhkan bidang tekan yang rata dan halus. Penerapan
dapat dilakukan dengan cara dengan “ Bubur Semen Biasa “,atau dengan “
Calsium Chloride ”, atau dengan “ Gips Terap “, untuk pengerasannya.
Tekan beton uji biasanya tidak cukup rata dan halus. Karena pembebanan tang
merata selama pengujian membutuhkan bidang tekan yang rata dan halus. Penerapan
dapat dilakukan dengan cara dengan “ Bubur Semen Biasa “,atau dengan “
Calsium Chloride ”, atau dengan “ Gips Terap “, untuk pengerasannya.
Penerapan
lainnya misalnya dengan campuran belerang dan pasir halus berbanding 3 : 1 (
Berat ) dipanasi pada temperatur 200º C. Beton Uji yang telah diterap, baru
bisa diuji apabila telah selesai terapan tadi cukup keras. Bagi campuran semen
pengeras dapat dilakukan setelah beberapa jam mengeras dan dingin sekali.
lainnya misalnya dengan campuran belerang dan pasir halus berbanding 3 : 1 (
Berat ) dipanasi pada temperatur 200º C. Beton Uji yang telah diterap, baru
bisa diuji apabila telah selesai terapan tadi cukup keras. Bagi campuran semen
pengeras dapat dilakukan setelah beberapa jam mengeras dan dingin sekali.
3.6
Umur Beton Uji
Umur Beton Uji
Pengujian
Umur Beton yang muda bagi pekerjaan yang baru dimulai adalah lebih baik. Dalam
hal ini dapat dipakai sebagai pedoman dalam mengatur campuran. Standar
pengujian kekuatan beton uji berumur 28 Hari ( PBI. 71 ). Akan tetapi karena
keadaan ynag mendesak, misalnya waktu pelaksanaan terbatas, sedangkan mutu
beton segera ingin di ketahui, maka dilakukan pengujian kekuatan beton sebelum
mencapai 28 Hari. Berikut akan dijelaskan Nilai Banding ( n ) Kuat Beton pada
Umur < 28 Hari dalam bentuk Tabel :
Umur Beton yang muda bagi pekerjaan yang baru dimulai adalah lebih baik. Dalam
hal ini dapat dipakai sebagai pedoman dalam mengatur campuran. Standar
pengujian kekuatan beton uji berumur 28 Hari ( PBI. 71 ). Akan tetapi karena
keadaan ynag mendesak, misalnya waktu pelaksanaan terbatas, sedangkan mutu
beton segera ingin di ketahui, maka dilakukan pengujian kekuatan beton sebelum
mencapai 28 Hari. Berikut akan dijelaskan Nilai Banding ( n ) Kuat Beton pada
Umur < 28 Hari dalam bentuk Tabel :
Tabel :
Nilai Banding ( n ) Kuat Tekan Beton Pada umur < 28 Hari.
Nilai Banding ( n ) Kuat Tekan Beton Pada umur < 28 Hari.
Umur Pengerasan Beton Uji |
Harga Nilai Banding ( n ) |
|||
Code of Practise Cp. 114 |
Jerman |
Pinero |
PBI. 71 |
|
3 Hari 7 Hari 14 Hari 21 Hari 28 Hari |
- 0,92 - - 1,00 |
- 0,99 - - - |
- 0,64 - - - |
0,40 0,65 0,88 0,95 1,00 |
3.7
Evaluasi Mutu Beton
Evaluasi Mutu Beton
Rumus-rumus
Evaluasi terhadap beton uji untuk mengetahui mutu beton sesuai dengan Peraturan
Standart Nasional Indonesia , sebagai berikut :
Evaluasi terhadap beton uji untuk mengetahui mutu beton sesuai dengan Peraturan
Standart Nasional Indonesia , sebagai berikut :
-
bi =
, Dimana : P = Beban Tekan ( Kg ).
A =
Luas Bidang Tekan ( cm2 ).
Luas Bidang Tekan ( cm2 ).
-
bm =
, Dimana : N =
Jumlah Beton Uji
Jumlah Beton Uji
rata-rata Beton Uji ( Kg/cm2 ).
- S =
, Dimana : S = Deviasi Standar ( Kg/cm2 ).
-
bk = 1 bm – 1,64 x S, Dimana :
bk = Kuat Tekan Karakteristik rata-rata Beton
Uji ( Kg/cm2 ).
Uji ( Kg/cm2 ).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar